Tuesday, November 6, 2018

Buku Kembali ke Titik Nol, Buku Saptuari Sugiharto, Buku Yang Mengubahku

Halo Semua..

Kalau ada buku yang mengubah hidup kami adalah buku ini, Kembali ke Titik Nol, tulisan Mas Saptuari yang begitu menginspirasi dan membuat mindset kami berubah, dari yang suka ngutangan ke bank, dikit-dikit ke bank, sekarang lebih suka minta ke Allah, dengan segala bentuk ujian di dalamnya.

Ini orangnya...

saptuari-sugiharto
Saptuari Sugiharto


Buku Kembali ke Titik Nol adalah buku yang berisi pengalaman Mas Saptuari yang begitu berat dalam melepaskan diri dari jeratan utang riba yang begitu berat. Buku ini berisi hambatan yang Mas Saptuari alami karena sudah terlanjur masuk ke dalam kubangan riba yang tak kunjung usai dalam memulai usaha.

Buku Kembali ke Titik Nol ini membuat kami pribadi sangat menyesal telah terlibat transaksi riba, walaupun bukan kami pribadi, namun keluarga besar kami, yang bertahun-tahun selalu nombok bayar cicilan hanya demi mendapatkan pinjaman sekitar 1 M. Walaupun sebenarnya secara hitungan manusia masuk, tapi kenyataannya Allah selalu membuat cash flow minus. Alias tidak pernah sesuai target sebelum meminjam ke bank.

Buku Saptuari, buku yang kata orang-orang banyak membuat orang rela menggunting kartu kreditnya, karena sudah saking menyesalnya bermain kartu kredit bertahun-tahun. Buku Saptuari ini, pengusaha gendeng dari Jogja sukses membuat kami semakin yakin bahwa utang di bank harus dilunasi segera, bagaimana pun caranya agar bunga tidak semakin tinggi.

Emang gendeng..

Oh iya, ini penampakan bukunya..

buku-kembali-ke-titik-nol-buku-saptuari-sugiharto
Buku Kembali ke Titik Nol, Buku saptuari Sugiharto

Buku ini sukses membuat kami mewek karena contoh-contoh di dalamnya sangat dekat dengan apa yang keluarga kami alami. Benar-benar kongkrit, gak ada yang ditutup-tutupi. Benar-benar membuat kami sadar sepenuhnya bahwa hidup ini sudah dijamin rezekinya, gak perlu suka ngutang-ngutang ke bank.

Buku Kembali ke Titik Nol ini juga mengisahkan orang lain yang terjerat utang puluhan milyar tapi akhirnya sadar dan menyerah, ketika dia sadar dia telah diperangi Allah dan Rasul Nya bertahun-tahun. Sebuah pukulan telak yang tidak mampu dilawan oleh manusia sehebat apapun manusia tersebut. Sungguh, hidayah berupa keadaran itu sangat mahal harganya.

Ketika membaca kisah Mas Saptuari menjual asetnya, kami terpikir untuk menjual aset keluarga yang selama ini menjadi beban bagi semua anggota keluarga. Aset keluarga yang menjadi jaminan di bank yang bisa saja melayang setiap saat karena cicilan yang terus tidak ditutupi oleh pendapatan usaha keluarga.

Benarlah kata Nabi bahwa ujung dari riba adalah kemiskinan. Sebelum meminjam bank, dan pastinya jauh sebelum membaca buku Mas Saptuari, usaha keluarga kami sangat stabil, Selalu menghasilkan profit tiap bulan dan bisa menjadi sumber penghasilan bagi para pegawainya. Pegawainya bahkan ada yang sudah 20 tahun bekerja di tempat usaha keluarga kami itu.

Namun, semua itu berubah ketika keluarga kami memutuskan untuk meminjam uang di bank konvensional sebesar 1 M. Sebuah angka besar yang tidak tahu mengapa harus sebesar itu. Lalu, dengan segala konsekuensinya, utang itu akhirnya membuat cashflow yang awalnya selalu positif, menjadi minus bertahun-tahun. Aneh kan?

Itulah cara Allah bekerja. Memiskinkan bertahap siapapun yang tidak mau berhenti dari riba.

Pada akhirnya, aset keluarga kami yang berupa tempat usaha tadi harus dijual dengan terpaksa dan dengan harga yang terlalu murah, hampir 20 x lipat lebih rendah dibanding harga aslinya. Demi bisa mendapatkan uang cash 1,5 M untuk membayar bunganya yang belum terbayarkan. Sungguh sebuah kejadian yang menampar keluarga kami yang seharusnya menjadi pelajaran pula bagi kami selaku anak-anaknya agar menghindari riba.

Mungkin itu sharing dari saya selaku pembaca buku Saptuari Sugiharto, yakni Kembali ke Titik Nol. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.